.

.
Headlines News :
<> Panorama Pagi media online terdepan, akurat, dan terpercaya<> <> Panorama Pagi menerima sumbangan tulisan dari pembaca berupa berita, artikel opini, esai sastra-budaya, cerpen, piatures, dan puisi. Kirim ke email Redaksi Panorama Pagi. Alamat Redaksi: Jl. Giliraja I No.29 Perumnas Giling, Pamolokan, Sumenep <> Catatan Em Saidi Dahlan : 'Kartu' <> <> Panorama Pagi merupakan media online yang memfokuskan pada kajian sosial, pendidikan seni dan sastra budaya <> <>

Kabid Pembinaan SMP : Perlu Budaya Lingkungan Sehat


Perlu Budaya Lingkungan Sehat

Akhirnya juara Lomba Lingkungan Sekolah Sehat diumumkan. Setiap tahun, Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sumenep menyelenggarakan Lomba Lingkungan Sekolah Sehat (LLSS). Pesertanya, semua SMP Negeri dan Swasta di daratan lingkungan Disdik Sumenep.
Dalam LLSS tersebut, Disdik melibatkan semua unsur terkait, dari Dinas Kesehatan, dan Lingkungan Hidup. "Tim Juri dari berbagai unsur," kata Kabid Pembinaan SMP, Muhammad Saidi, di ruang kerjanya, "Dari Dinas Kesehatan, Lingkungan Hidup, dan dari internal Disdik. Pengawas sekolah juga terlibat di dalamnya."
Penilaian LLSS mengacu pada semua aspek: aspek kesehatan, lingkungan dan warga sekolah yang sehat. Ada UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) di dalamnya, termasuk kegiatan UKS yang menjaga kesehatan sekolah. "Unsur kesehatan tidak sebatas lingkungan," kata Erdiyanto, Kasi Peserta Didik dan Pengembangan Pendidikan Karakter Bidang Pembinaan SMP, "tapi juga, bagaimana warga sekolah mempraktekkan budaya sehat," tambahnya. Warga sekolah yang dimaksud Erdi, Ketua Tim Juri, adalah  semua warga yang berada di lingkungnan sekolah, yang berinteraksi dengan warga lainnya di sekolah. Ada kepala sekolah, guru, TU, siswa, dan penjaga kantin, penjaga sekolah, dan sebagainya.
LLSS memang menjadi kegiatan rutin bidang SMP. Dan dari pantauan PanoramaPagi, kegiatan tersebut mendorong terciptanya budaya sehat di sekolah. Tapi sayangnya, untuk anggaran 2019 belum teranggarkan. Hal ini dibenarkan oleh Kabid Pembinaan SMP, Muhammad Saidi. "Tahun depan belum teranggarkan. Mungkin bisa disusulkan pada PAK," katanya singkat. Dalam hal ini, Saidi tidak bisa lebih jauh menjelaskan alasan tidak dimasukkannya LLSS ke dalam program kegiatan. "Kami hanya meunggu dukungan semua pihak, termasuk DPRD," pungkasnya.
Untuk tahun ini, juara LLSS: Juara I diraih SMPN I Gaapura, Juara II, SMPN I Ambunten, dan Juara III SMPN I Guluk-Guluk. Sedangkan Juara Hara[an I SMPN Bluto, Juara Harapan II SMPN I Kalianget, dan Juara Harapan III SMPN 4 Sumenep. Penilaian LLSS tidak sama dengan omba Adiwiyata. Indikator penialaiannya pun berbeda. "Sehingga bisa mungkin peserrta Adiwiyata tingkat provinsi, atau bahkan nasional tidak menjadi juara dalam LLSS. Hal itu dibenarkan oleh Tim Juri dari Dinas Pendidikan dan Lingkungan Hidup. (For)

Sukses di India, Realmi Serius garap pasar anak muda Indonesa

Jakarta, 17 September 2018 - Merek smartphone Realme mengkonfirmasi secara resmi kemunculannya di Indonesia. Kehadiran Realme di Indonesia ditujukan untuk memperluas target pasar anak muda di kawasan Asia Tenggara. Realme percaya diri bisa menjadi “game changer” di pasar smartphone Indonesia dengan fokus menyediakan smartphone yang memiliki kinerja cepat dan desain stylish untuk anak muda dengan harga yang terjangkau.

Indonesia merupakan negara Asia Tenggara pertama yang menjadi tujuan ekspansi Realme dalam menyasar pasar anak muda, setelah sebelumnya Realme sukses memasarkan Realme 1 dan Realme 2 di India. Sebagai gambaran, Realme 1 terjual habis dalam dua menit setelah tersedia di situs Amazon India, menjadikan Realme 1 sebagai produk smartphone yang mendapatkan predikat Best-Seller. Realme 2 pun memecahkan rekor terjual sebanyak 370.000 unit hanya dalam waktu 2 minggu setelah peluncurannya di India. Hal ini semakin memperkuat kepercayaan diri Realme untuk hadir sebagai game changer di pasar Indonesia.

Founder and CEO Global Realme, Sky Li mengatakan bahwa, “Dengan membawa semangat “proud to be young,” Realme siap untuk menghilangkan batasan dan menetapkan standar kualitas baru di industri smartphone di Indonesia. Smartphone Realme memiliki konsep ‘power meets style’ atau integrasi dari kinerja yang cepat dan desain yang trendi telahberhasil menginspirasi dan menarik jutaan pengguna. "Designing for young people" bukan hanya sebuah pernyataan tetapi juga terbukti dalam semua produk Realme yang memungkinkan setiap penggunanya, anak muda di seluruh dunia untuk mengeksplorasi kemungkinan yang tak terbatas.

“Realme percaya bahwa menjadi muda berarti memiliki kekuatan dan semangat. Menjadi muda adalah berbicara mengenai kemungkinan yang tidak terbatas dan tidak takut menghadapi tantangan. Menjadi muda juga tentang menemukan, menciptakan, dan bermimpi. Realme melihat anak muda selalu memiliki kemungkinan yang tak terbatas. Kemungkinan untuk menciptakan terobosan untuk berubah dan bangga dengan pertumbuhan anak muda untuk menaklukkan dan meraih kesuksesan serta bertahan tanpa takut membuka jalan yang baru,” tambah Sky Li.

Sebagai data tambahan, e-marketers mencatat pengguna aktif smartphone di Indonesia tumbuh dari 55 juta orang pada tahun 2015 menjadi 100 juta orang di 2018.  Dengan jumlah tersebut, Indonesia menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika. Pengguna smartphone saat ini di Indonesia didominasi oleh usia produksi yang disebut sebagai generasi milenial (15 – 35 tahun).

Anak muda di seluruh dunia, termasuk di Indonesia memiliki kebiasaan dalam menggunakansmartphone dan pandangan estetika yang berbeda, tetapi tuntutan mereka nyaris serupa dalam hal kinerja dan desain. Realme akan fokus menyediakan smartphone dengan teknologi terkini untuk anak muda yang menawarkan kinerja cepat dan desain yang penuh gaya namun dengan harga yang terjangkau.

Beberapa waktu lalu, Chief Product Officer Realme, Levi Lee mengatakan bahwa Realme 2 merupakan smartphone Realme pertama yang akan dipasarkan secara internasional. Hal ini semakin menegaskan bahwa Realme akan segera masuk ke negara lain yang memiliki potensi pasar yang besar, salah satunya Indonesia. Jadi, bersiaplah anak muda Indonesia untuk menyambut kehadiran Realme. (***)

Catatan Em Saidi Dahlan : 'Pilihan'


Pilihan

Seorang ayah membonceng dua orang anaknya ke sekolah. Si sulung, perempuan yang tergolong cerdas masih duduk di kelas 4. Sedangkan adiknya, seorang laki-laki bertubuh gempal, tubuhnya tegak bak pesilat, atau pemain bola volly juru smash, belum genap 6 tahun. Jadi, belum sekolah, meski hampir setiap hari anak laki-laki itu meronta untuk segera didaftarkan di SD. Aturan belum membolehkan, sebab usia belum sampai. Tapi ia setia menemani ayahnya,  mengantarkan kakaknya ke sekolah, setiap hari.
Pak Sakerah melanjutkan ceritanya :
Sekira satu kilometer sebelum sampai sekolah yang letaknya di bawah lembah sana, si ayah itu menghentikan sepeda ontelnya. Lalu, ia mengajak kedua anaknya bernaung di bawah pohon bukkol yang tampak lebat. Buah pohon purba itu memang menggiurkan, dan menggoda kedua anak itu; hampir semuanya memerah, masak di atas pohon; dan yang penting pohon itu lebat, bisa menaungi mereka dari terik matahari. Mereka duduk. Lalu mereka berdialog.
"Duduk di sini, ayah ingin bertanya sesuatu," katanya kepada kedua orang anaknya.
"Iya, ayah," serempak mereka menyahut. "Tapi kakak," begitu si perempuan menyebut dirinya, "akan terlambat ayah? Sekarang upacara Hardiknas."
"Tidak apa, ayah yang akan menjelaskan kepada bu gurumu."
Si sulung mengangguk.
"Kata-kata apa yang dipesankan bu gurumu setelah beliau menyajikan pelajaran?" tanya si ayah kepada anak perempuannya.
"Tidak ada, ayah! Beliau sibuk menulis, tampaknya banyak yang ia tulis."
"Ketika kamu mau istirahat setelah bel berbunyi? Apa yang dipesankan bu gurumu?"
"Tidak ada, ayah! Beliau sibuk menulis sesuatu di buku besar dan tebal."
"Ketika kamu mau pulang?"
"Tidak ada, ayah! Beliau sibuk menulis."
"Bagaimana situasi kelasmu pada jam istirahat?"
"Kemarin si Dodi bergulat dengan si Dekil. Keduanya terluka, dan berdarah. Hebatnya, mereka tidak menangis. Benar-benar tahan banting mereka," cerita si sulung itu.
"Lalu, apa yang dikatakan bu gurumu?"
"Tidak ada, ayah! Beliau sibuk menulis."
"Lalu, apa lagi ceritamu di sekolah?"
"Kemarin lalu, si Patras memelorotkan rok Kartini. Kancing-kancing roknya lepas, dan nyaris ia telanjang, hanya menyisakan celana dalam."
"Lalu?"
"Kartini mengamuk, tapi tidak menangis. Lalu, teman laki-laki yang baik hati meminjamkan ikat pinggang, dan selamatlah Kartini dari rasa malu."
"Lalu, apa kata bu gurumu?"
"Beliau sibuk menulis, ayah!"
"Ada lagi ceritamu?"
"Kemarin lusa, si Anton pulang pada jam istirahat, tanpa pamit. Dan bu guru tahu itu."
"Apa kata bu gurumu?"
"Bu guru sibuk menulis."
 Laki-laki paroh baya itu diam. Matanya menerawang, tertuju pada gedung sekolah nun jauh di sana, di bawah lembah. Lalu katanya, "Kamu, si Tomi," katanya kepada anak laki-lakinya, "mengapa kamu ingin sekolah?"
"Aku bisa menjaga diri, ayah!"
"Maksudmu?"
"Si Tengil kemarin lalu aku kalahkan ketika kami bergulat. Dia luka, aku tidak. Padahal ayah tahu, si Tengil itu sudah kelas tiga, aku belum sekolah."
"Lalu?"
"Makanya aku mau sekolah."
"Ayo pulang," ajak si ayah. "Kalian tidak usah bersekolah," ia terus mengayuh sepeda ontelnya, dan gedung sekolah semakin jauh dari pandangannya.
Pak Sakerah menutup ceritanya. Lalu ia menjelaskan:  Cerita di atas sudah lepas dari pelakonnya. Ia telah menuju tafsirnya, tafsir orang-orang yang melihat, atau yang mendengarnya. Maka, tentang pendidikan, adalah tafsir bagi mereka yang butuh, atau memanfaatkan keadaan.
Pendidikan kita, utamanya para pelakonnya, telah diperkosa oleh yang namanya 'pemaksaan' dengan mengatasnamakan 'demi kemajuan'. Di kelas, guru sibuk menulis, dan menulis. Sayangnya, menulis yang dimaksud di sini adalah mencatatkan suatu rencana, atau keadaan yang lalu tentang proses. Bukan menulis yang bermakna menuangkan ide, gagasan brilian yang monumental, atau sebuah kreasi. Maka, guru tadi sibuk dengan tugas wajib di luar kewajibannya. Ia harus menyiapkan perangkat dan rencana pembelajaran. Menderetkan angka dan naratif tentang capaian siswa yang konon seabrek.
Cerita di atas bisa ditafsir, atau lebih enjoy ditebak, bahwa sekolah di bawah lembah sana telah melaksanakan kurikulum 2013. Sebuah kurikulum yang menyengsarakan banyak pihak, ketika moratorium pengangkatan PNS guru tertunda satu priode pemilihan presiden. Kurikulum yang menjauhkan siswa dengan gurunya, atau mengabaikan sikap peduli guru terhadap siswanya. Di sekolah, mereka hidup sendiri-sendiri, penuh individulisasi. Guru hanya bertugas sebagai pengajar, dan tidak lagi sebagai pendidik ketika administrasi kurikulum harus dipenuhi.
Maka, keputusan si ayah tadi yang memulangkan kedua anaknya untuk tidak sekolah tidak berlebihan. Sebab, jika hanya ingin tahu pengetahuan alam atau ilmu sosial, si ayah tentu bisa mengajarkannya di rumah. Jika hanya ingin cepat berhitung, jawabanya ada di kalkulator, mesin hitung cepat.
"Ayah tadi butuh pendidikan," kata Pak Sakerah yang menceritakannya di tengah forum pembahasan Kurikulum sekolah anaknya. Ia diundang sebagai komite sekolah. "Bukan hanya butuh pengajaran," katanya menambah.
Lalu, masihkah lembaga persekolahan kita dibiarkan apa adanya? Guru tidak paham siswanya berbuat apa, dan siswa tidak menghormati gurunya.  Di Hari Pendidikan Nasional ini, si ayah tadi hanya mampu bergumam: "Selamat Hardiknas bangsaku, semoga benar-benar hari pendidikan nasional."
Panorama Pagi –  1 Mei 2018

Catatan Em Saidi Dahlan : 'Masjid Jamik'


Masjid Jamik

Seorang Cina: mungkin peranakan, tapi matanya sipit dan kulitnya putih; berjas merah yang dalamannya mengenakan kaos warna putih, mungkin ia kader sebuah partai, atau hanya ingin menunjukkan rasa nasionalismenya dengan menorakkan pakaiannya 'merah-putih'; berkopiah putih-krem dianyam dari rotan, mungkin seorang mualaf atau sekadar pelindung kepalanya yang penuh uban, atau ingin menunjukkan hasil kreatifitas anak bangsa yang bernama kerajinan; tertegun menatap Masjid Jamik Sumenep.
Laki-laki Cina itu berdiri di seberang masjid, depan taman adipura. Mulutnya komat-kamit, tapi tak sedang berzikir. Seperti ada kalimat-kalimat yang terus meluncur dari mulutnya. Di depan masjid yang dulu 'berstatus' jamik--oleh karena penataan status di zaman Orba, masjid terbesar di kabupaten berubah 'agung'--laki-laki itu terus menatap Masjid Jamik. Dan ia berkata singkat kepada orang di sekitarnya, "Andai kita seperti mereka; perancang ide dan arsitektur masjid ini: tidak ada wak-wasangka di antara kita,"—lalu ia pergi.
Cerita tidak menarik itu diceritakan kembali oleh Pak Sakerah kepada warga di RT-nya. Saat itu tengah ada rapat RT, membahas persiapan Kamling pada Ramadan nanti. Herannya, meski tidak menarik, hampir setiap warga memiliki tafsirnya sendiri.
Masjid itu dibangun oleh arsitek Cina, Lauw Pia Ngo, cucu Lauw Kate, orang Cina pertama yang tinggal di Sumenep. Ia penganut Khong Hu Chu, yang kala itu tidak ada larangan dari Hindia untuk menganut agama atau kepercayaan apapun. Bahkan, kata Pak Sakerah, tak beragama pun dulu itu boleh hidup layak di negeri yang bernama Nusantara. Dan jangan heran, mereka hidup damai. Muasalnya, masjid kebanggaan masyarakat Madura itu dari ide Panembahan Sumolo, seorang ulama putera Bendara Saod. Maka, ide brilian Sang Panembahan ketemu arsitek, jadilah Masjid Jamik Sumenep.
"Orang Sumenep seratus persen muslim!" kata Pak Sakerah meyakinkan pendengarnya. "Dan warga Tiong Khoa, seratus persen Khong Hu Chu."
Lebih lanjut Pak Sakerah menuturkan:  tafsir yang menarik adalah adanya perpaduan dua perbedaan besar; agama, bangsa, budaya dan segala tetek bengek yang berhubungan dengan kemanusiaan. Yang satu muslim, yang lain Khong Hu Cu; yang satu Nusantara, yang lain Tiong Hoa; yang satu penguasa, yang lain terkuasa; yang satu raja yang lain abdi; dan keduanya saling menghormati. Jadilah artsitek Cina membangun masjid, yang oleh pelataran hadits, meski dibangun oleh nonmuslim, derajat maqam-nya jauh lebih mulia dari pada di rumah yang dibangun oleh muslim. Sebagai tempat shalat yang jauh lebih utama dari pada di rumah.
Sebenarnya Pak Sakerah tidak ingin membicarakan soal itu. Yang ingin dia bicarakan kali ini adalah adanya perbedaan yang jika menyatu menjadi ide besar bermuatan positif. Semisal, Amien Rais jika ber-ide brilian disampaikan kepada Jokowidodo, tentu menjadi ide besar, dan bangsa ini jauh melampaui Amerika. Meski kritik untuk pemimpin di negeri ini memang penting, sebab tanpa kritik presiden bisa memproklamirkan dirinya sebagai raja, yang jatah kekuasaannya sampai mati. "Tapi kritik itu tidak asal," kata Komat melengkapi penjelasan rekannya.
Tapi, kata Kiai Sahal Mahfudz ketika 'merawat' NU, kita bisa hidup tenteram dan berdampingan dengan siapa pun jika mau 'bersama dalam ketidaksamaan'—tapi yang satu tidak perlu menyerang berlebihan kepada yang lain.
Maka, warga RT yang mestinya bermusyawarah untuk Kamling Ramadan menyimpulkan suasana di luar sana, riuh-rendah di luar perumahan RT, bahwa: Pertama, negeri ini masih butuh Amien Rais, meski kadang kritiknya menjengkelkan. Beliau, kata Pak Sakerah, memiliki 'sebagian' andil dalam menumbangkan kuasa Orba yang diktator. Meski cita-citanya unuk menjadi orang nomor wahid di negeri ini tidak semulus Jokowidodo. Rupanya, Tuhan masih lebih suka kepada Jokowidodo untuk menjadi presiden. Artinya, "Kritik dari para kritikus, politikus, atau apapun namanya, misalnya seperti pernyataan-pernyataan politik Fadli Zon yang dianggap nyinyir, itu masih dalam koridor 'penting' dilakukan," Pak Sakerah menyimpulkan.
Kedua, kita tidak berharap laki-laki Cina di depan Masjid Jamik Sumenep malah beramai-ramai mengundang teman-kerabat yang di negeri seberang sana untuk datang ke Indonesia. Lapangan kerja jangan buru-buru diserbu orang Cina, "Wong anak negeri sendiri malah kekurangan lapangan kerja, kok malah diserbu orang luar," kata Pak Sakerah.
"Kita kekurangan lapangan kerja! Bukankah begitu, Bang?" kata Kamit antusias, "meski kelebihan lapangan sepak bola. Sanak saudara kita masih banyak yang menganggur, makanya mereka lebih suka bermain di tanah lapang sepak bola, bukan di tanah lapang kerja," tambahnya getir.
Maka, ksimpulan kedua, kata Pak Sakerah: kita tidak boleh nyenyak tidur, sebab di belakang kita sudah menanti tenaga asing yang hendak masuk ke tanah air.  
Sementara, riuh Pilkada kali ini terkalahkan oleh ambisi mengganti presiden di tahun 2019. 
"Bagi kami, siapa pun presidennya tidak terlalu penting. Wong harga BBM tetap melambung, cabe tak terbeli, dan harga listrik terus merambat tanpa sosialisasi. Saya hanya berharap, Masjid Jamik Sumenep tidak dipindah ke Tiongkok, oleh karena mereka merasa misalnya,  ikut mengarsiteki masjid. Itu saja."
Panorama Pagi –  26 April 2018
 
by : Fen 2013 | email: redaksipanoramapagi@gmail.com | Redaksi
Copyright © 2011. Panorama Pagi - Sukseskan Pemilu 2014
BL Panorama Pagi by Login
To AMOI