.

.
Headlines News :
Home » » Catatan Em Saidi Dahlan : 'Pilihan'

Catatan Em Saidi Dahlan : 'Pilihan'

Written By panorama pagi on Selasa, 01 Mei 2018 | 17.18


Pilihan

Seorang ayah membonceng dua orang anaknya ke sekolah. Si sulung, perempuan yang tergolong cerdas masih duduk di kelas 4. Sedangkan adiknya, seorang laki-laki bertubuh gempal, tubuhnya tegak bak pesilat, atau pemain bola volly juru smash, belum genap 6 tahun. Jadi, belum sekolah, meski hampir setiap hari anak laki-laki itu meronta untuk segera didaftarkan di SD. Aturan belum membolehkan, sebab usia belum sampai. Tapi ia setia menemani ayahnya,  mengantarkan kakaknya ke sekolah, setiap hari.
Pak Sakerah melanjutkan ceritanya :
Sekira satu kilometer sebelum sampai sekolah yang letaknya di bawah lembah sana, si ayah itu menghentikan sepeda ontelnya. Lalu, ia mengajak kedua anaknya bernaung di bawah pohon bukkol yang tampak lebat. Buah pohon purba itu memang menggiurkan, dan menggoda kedua anak itu; hampir semuanya memerah, masak di atas pohon; dan yang penting pohon itu lebat, bisa menaungi mereka dari terik matahari. Mereka duduk. Lalu mereka berdialog.
"Duduk di sini, ayah ingin bertanya sesuatu," katanya kepada kedua orang anaknya.
"Iya, ayah," serempak mereka menyahut. "Tapi kakak," begitu si perempuan menyebut dirinya, "akan terlambat ayah? Sekarang upacara Hardiknas."
"Tidak apa, ayah yang akan menjelaskan kepada bu gurumu."
Si sulung mengangguk.
"Kata-kata apa yang dipesankan bu gurumu setelah beliau menyajikan pelajaran?" tanya si ayah kepada anak perempuannya.
"Tidak ada, ayah! Beliau sibuk menulis, tampaknya banyak yang ia tulis."
"Ketika kamu mau istirahat setelah bel berbunyi? Apa yang dipesankan bu gurumu?"
"Tidak ada, ayah! Beliau sibuk menulis sesuatu di buku besar dan tebal."
"Ketika kamu mau pulang?"
"Tidak ada, ayah! Beliau sibuk menulis."
"Bagaimana situasi kelasmu pada jam istirahat?"
"Kemarin si Dodi bergulat dengan si Dekil. Keduanya terluka, dan berdarah. Hebatnya, mereka tidak menangis. Benar-benar tahan banting mereka," cerita si sulung itu.
"Lalu, apa yang dikatakan bu gurumu?"
"Tidak ada, ayah! Beliau sibuk menulis."
"Lalu, apa lagi ceritamu di sekolah?"
"Kemarin lalu, si Patras memelorotkan rok Kartini. Kancing-kancing roknya lepas, dan nyaris ia telanjang, hanya menyisakan celana dalam."
"Lalu?"
"Kartini mengamuk, tapi tidak menangis. Lalu, teman laki-laki yang baik hati meminjamkan ikat pinggang, dan selamatlah Kartini dari rasa malu."
"Lalu, apa kata bu gurumu?"
"Beliau sibuk menulis, ayah!"
"Ada lagi ceritamu?"
"Kemarin lusa, si Anton pulang pada jam istirahat, tanpa pamit. Dan bu guru tahu itu."
"Apa kata bu gurumu?"
"Bu guru sibuk menulis."
 Laki-laki paroh baya itu diam. Matanya menerawang, tertuju pada gedung sekolah nun jauh di sana, di bawah lembah. Lalu katanya, "Kamu, si Tomi," katanya kepada anak laki-lakinya, "mengapa kamu ingin sekolah?"
"Aku bisa menjaga diri, ayah!"
"Maksudmu?"
"Si Tengil kemarin lalu aku kalahkan ketika kami bergulat. Dia luka, aku tidak. Padahal ayah tahu, si Tengil itu sudah kelas tiga, aku belum sekolah."
"Lalu?"
"Makanya aku mau sekolah."
"Ayo pulang," ajak si ayah. "Kalian tidak usah bersekolah," ia terus mengayuh sepeda ontelnya, dan gedung sekolah semakin jauh dari pandangannya.
Pak Sakerah menutup ceritanya. Lalu ia menjelaskan:  Cerita di atas sudah lepas dari pelakonnya. Ia telah menuju tafsirnya, tafsir orang-orang yang melihat, atau yang mendengarnya. Maka, tentang pendidikan, adalah tafsir bagi mereka yang butuh, atau memanfaatkan keadaan.
Pendidikan kita, utamanya para pelakonnya, telah diperkosa oleh yang namanya 'pemaksaan' dengan mengatasnamakan 'demi kemajuan'. Di kelas, guru sibuk menulis, dan menulis. Sayangnya, menulis yang dimaksud di sini adalah mencatatkan suatu rencana, atau keadaan yang lalu tentang proses. Bukan menulis yang bermakna menuangkan ide, gagasan brilian yang monumental, atau sebuah kreasi. Maka, guru tadi sibuk dengan tugas wajib di luar kewajibannya. Ia harus menyiapkan perangkat dan rencana pembelajaran. Menderetkan angka dan naratif tentang capaian siswa yang konon seabrek.
Cerita di atas bisa ditafsir, atau lebih enjoy ditebak, bahwa sekolah di bawah lembah sana telah melaksanakan kurikulum 2013. Sebuah kurikulum yang menyengsarakan banyak pihak, ketika moratorium pengangkatan PNS guru tertunda satu priode pemilihan presiden. Kurikulum yang menjauhkan siswa dengan gurunya, atau mengabaikan sikap peduli guru terhadap siswanya. Di sekolah, mereka hidup sendiri-sendiri, penuh individulisasi. Guru hanya bertugas sebagai pengajar, dan tidak lagi sebagai pendidik ketika administrasi kurikulum harus dipenuhi.
Maka, keputusan si ayah tadi yang memulangkan kedua anaknya untuk tidak sekolah tidak berlebihan. Sebab, jika hanya ingin tahu pengetahuan alam atau ilmu sosial, si ayah tentu bisa mengajarkannya di rumah. Jika hanya ingin cepat berhitung, jawabanya ada di kalkulator, mesin hitung cepat.
"Ayah tadi butuh pendidikan," kata Pak Sakerah yang menceritakannya di tengah forum pembahasan Kurikulum sekolah anaknya. Ia diundang sebagai komite sekolah. "Bukan hanya butuh pengajaran," katanya menambah.
Lalu, masihkah lembaga persekolahan kita dibiarkan apa adanya? Guru tidak paham siswanya berbuat apa, dan siswa tidak menghormati gurunya.  Di Hari Pendidikan Nasional ini, si ayah tadi hanya mampu bergumam: "Selamat Hardiknas bangsaku, semoga benar-benar hari pendidikan nasional."
Panorama Pagi –  1 Mei 2018
Share this post :

Posting Komentar

 
by : Fen 2013 | email: redaksipanoramapagi@gmail.com | Redaksi
Copyright © 2011. Panorama Pagi - Sukseskan Pemilu 2014
BL Panorama Pagi by Login
To AMOI