.

.
Headlines News :
<> Panorama Pagi media online terdepan, akurat, dan terpercaya<> <> Panorama Pagi menerima sumbangan tulisan dari pembaca berupa berita, artikel opini, esai sastra-budaya, cerpen, piatures, dan puisi. Kirim ke email Redaksi Panorama Pagi. Alamat Redaksi: Jl. Giliraja I No.29 Perumnas Giling, Pamolokan, Sumenep <> Catatan Em Saidi Dahlan : 'Kartu' <> <> Panorama Pagi merupakan media online yang memfokuskan pada kajian sosial, pendidikan seni dan sastra budaya <> <>

Catatan Em Saidi Dahlan : 'Cinta'


Cinta

 (Mohon maaf, saya tidak tertarik bergumam tentang situasi negeri ini, yang tokoh-tokohnya mulai 'nyinyir'; janji sana-sini dengan dimuarakan pada kepentingan rakyat. Toch gaji pegawai negeri tetap ngeri, cabe tak terbeli, beras di musim panen masih melambung, dan tarif listrik terus merambat tanpa sosialisasi. "Aku memiliki negeri ini, tapi tak pernah merasakan nikmatnya hidup di negeri warisan Majapahit ini," Pak Sakerah ketus, lalu diam. Maka ia hanya ingin menulis 'cinta')
Cinta: Tak lebih dari kebencian yang ditunda. Seorang Bandung Bondowoso misalnya, adalah kisah yang dibangun dari akar cinta untuk memiliki atau dimiliki oleh angannya, dan Jongrang sebagai tumbal dalam proses persyaratan yang mustahil: 1000 candi dalam semalam. Ketika syarat itu tak terpenuhi, cinta tertusuk membenam dalam sebuah kebencian yang sangat.
Cinta itu mengundang kebencian, dan menyuburkannya entah dalam angan atau nyata. Sebuah sinisme hati yang tertoreh. Dan, al-Adawiyah adalah sebuah misal yang menemukan cinta-Nya, namun membenci sesamanya. Ketika cintanya hanya dimuarakan kepada Sang Khalik, ia telah mengorbankan segalanya dalam bentuk kebencian yang disusun dengan kalimat sederhana "Saya tidak bisa membagi cinta"—yang disampaikan dengan bergetar, tapi menyayat hati pendengarnya.
Ada banyak hal yang berderet-deret, mengapa 'pelampiasan' cinta seseorang kepada 'rencana' pasangannya tak tergapai. Satu deret yang mudah dihafal, "Belum pantas"—yang bisa ditafsir lingkungan sosial kita belum berkenan. Misalnya, ia telah memiliki pasangan yang dalam agama apapun, kecuali di zaman purba ketika tenun baju belum ditemukan, memiliki dua 'pejantan'. Tidak layak, oke. Tapi lebih tidak layak ketika hasrat untuk memiliki dimuarakan kepada cinta. Dan, poliandri di masa kini adalah kata yang (hanya) tercantum di dalam kamus, yang semestinya telah dihapus dalam daftar kata ketika agama-agama mulai diyakini umat manusia.
Kisah menarik yang patut diajukan dalam tulisan ini, Layla Maimunah yang menyeberangi sungai Tigris hanya berjalan kaki, di atas air. Ia meyakini, Tuhan mencintainya. Oleh karena cinta-Nya kepada Maimunah, dan cinta Maimunah kepada-Nya; apa yang ia minta selalu terkabul hanya dengan sepotong doa, "Layla mengenal Tuhan dan Tuhan mengenal Layla"—dan air beriak, lalu tenang, dan ia menyeberangi Tigris dengan hanya berjalan kaki di atas air. Sementara, seorang tukang perahu terkagum-kagum, lantaran ia sendiri tidak mampu melakukan sebagaimana Maimunah lakukan. Padahal, doa cinta itu keluar dari mulut tukang perahu, dan mengajarkannya kepada Layla Maimunah. Sebuah sinisme cinta yang tak terukur, dan Tuhan Mahatahu segalanya!
Qais 'al-Majnun' yang memilih Layla sebagai kekasihnya, adalah sebuah deret kisah yang unik dan menarik dicerna. Kisahnya mencintai Layla, sebagai jembatan untuk menuju Sang Khalik, sebagaimana al-Hallaj yang menyatukan sesuatu yang tidak padu, dan Syekh Siti Jenar yang 'manunggaling kawula Gusti'. Oleh karena cintanya yang menyatu, bukan hanya kepada makhluk tapi kepada Sang Pemilik, binatang buas pun tunduk dan hormat. Mereka tetap memiliki rasa yang sama, dan 'perasaan' itu menjadi abadi—tidak seperti Li Changgeng di wilayah Jiangyou, Provinsi Sichuan, Tiongkok sebagaimana ditulis Goenawan Mohamad dalam 'Tempo' (24/5/2015). Ia seorang juru tangis pada pekabungan. Dan, ia mendapat upah dari pekerjaannya. Li Changgeng mencintai pekerjaannya. Ia pun bisa menata ritme-tangis: mengaung-ngaung, menjerit-jerit dan meronta-ronta dengan perasaan yang amat dalam dengan berbagai improvisasi sesuai dengan besaran upah yang diterimanya. Tapi lama-kelamaan Li mengaku: "Akhirnya kami tidak memiliki perasaan."—hilang dan menjelma menjadi cinta pada uang.  
Di zaman Jepang, seorang nelayan Pasongsongan, Ki Nasran, bercerita. Ia terdampar sampai ke pesisir Dungkek ketika menangkap ikan. Untuk menyambung hidupnya, ia menjual tangis  pada rumah duka keluarga Cina di Dungkek. Ia tidak merasa kehilangan, atau duka pada siapapun; tapi Ki Nasran hanya mencintai uang untuk menyambung hidupnya. Memang, pada mulanya ia iku berduka, dan lama-kelamaan duka itu menghilanng.
Tidak di 'kids zaman now', Kiai Masurat bisa memiliki 10 isteri, dengan sebuah 'istana' ratusan kamar untuk semua isterinya. Asisten rumah tangga disediakan di setiap kamar sang isteri, dan tukang-tukang bangunan yang setiap hari bekerja memperbaiki tembok yang kadang gempil, atau sekadar mengelap meja-makan. Juru masak, dan beberapa mobil yang diparkir di lantai atas siap menemani sang permaisuri, atau padmi. Dan, jika Kiai Masurat berlaku adil, ia tidak akan pernah memiliki permaisuri dan padmi; keduanya sama, setara dan mendapat perlakuan yang sebanding. Tapi, adakah ia bisa membagi cinta kepada kesemua isterinya? Tidak pernah terungkap dari seorang Kiai Masurat yang asli Lenteng, Sumenep itu sampai akhir hayatnya. Ataukah sepuluh isterinya itu sebagai idaman belaka?
Di 'kids zaman now' malah berkembang, manusia idaman lain bukan hanya milik suami. Tapi juga isteri. Tidak sedikit seorang isteri ingin memiliki suami lebih dari satu, sebagaimana yang dilakukan suaminya. Mungkin mereka mengira, Tuhan tidak adil menerapkan hukum-hukum agama. Seorang mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah menulis tugas akhirnya dengan sumber tokoh: "Demi keadilan, dan atas nama HAM, wanita juga diperkenankan memiliki lebih dari seorang suami. Apalagi hanya lelaki idaman. Sebab, Tuhan Mahaadil. Dan hanya kita saja yang tidak bisa berlaku adil, menempatkan wanita pada posisi yang terpinggirkan, dan selalu rugi, tidak sama, dan hanya menelan ludah ketika melihat laki-laki memiliki lebih sebagaimana wanita juga berkeinginan."—sebuah simpulan dari pemeradilan untuk laki-laki dan wanita, yang di 'kids zaman now' memang diperjuangkan, sementara di zaman orde yang berderet dianggap menista. 
Jika seorang isteri menginginkan lebih dari satu pasangan, maka ia hidup di 'kids zaman now'—yang semakin tak karuan. Dan, jika seorang wanita bersuami masih bergenit-genit dengan angan-angan 'melampaui batas' kewajaran, ia barangkali lupa bahwa rumah idamannya semakin sempit: 1x2 meter.
Telepas dari itu semua, apakah Anda masih punya cinta? Ataukah sudah hilang rasa sebagaimana Li Changgeng, si juru tangis itu?
Panorama Pagi –   19 April 2018

Catatan Em Saidi Dahlan : 'Kartu'

KARTU

 

Kartu: apapun jenis, bentuk, atau warna tidak perlu didefinisikan terlalu ambigu dan jlimet. Dalam hal ini, kita bersepakat, bahwa kartu adalah selembar kertas, atau mungkin lembaran yang disetarakan dengan kertas, yang dibuat khusus, tentu dengan warna yang disepakati pula. Taruhlah ada e-KTP—jenis kartu yang menjadikan perancangnya masuk bui, misalnya. Kartu ini membuat jagad raya 'bergoncang': dalam angka trilyun yang nol-nya berderet, membuat orang terperangah sebab jumlah itu bisa untuk membangun hotel berbintang sekian lantai. Kartu ini pula, membuat orang-orang terhormat menjadi pintar berakrobat.

Dari tahun ke tahun, sejak Jokowi berkuasa, telah berderet jenis kartu yang qou internasional. Ada kartu pintar, yang dimaksudkan untuk membuat pintar orang, meski kemudian generasi kita konon semakin tak bermartabat. Bayangkan, maksud awalnya, kartu pintar itu untuk orang-orang miskin dan terkebelakang. Mereka diharap bisa menikmati layanan gratis di bidang pendidikan, atau semacam bantuan meringankan bea-pendidikan. Tapi malah sebaliknya, pemegang kartu pintar adalah orang-orang yang pintar mengelabui tujuan awal itu.

"Bahkan," kata Pak Sakerah, "kartu pintar tak ubahnya Bantuan Langsung Tunai (BLT) di zaman SBY. Penerimanya bukan anak sekolahan, tapi orang tua siswa yang cenderung tidak diperuntukkan biaya sekolah. Kadang, malah tidak sampai ke penerima yang berhak, tapi ngendap kemana-mana."

Lain pula, kartu sehat, tujuan awalnya adalah orang-orang miskin berekonomi sekarat pemegangnya. Kartu sehat: agar semua orang tidak sakit, atau setidaknya menikmati layanan kesehatan secara gratis, atau murah. Tapi ironisnya, kartu sehat benar-benar hanya sebuah kartu yang dirancang dari selembar kertas, dan tak bergigi. Ketika kartu sehat disodorkan kepada bidan, dokter, atau rumah sakit, kartu sehat malah benar-benar sakit, tak berdaya, mendapat penolakan, dan wujudnya berubah menjadi kartu sakit--ini tidak bisa dibantah.

"Jangan berharap jika orang miskin sakit kepingin dapat kartu sehat," kata Pak Sakerah. "Orang-orang udik lebih suka menjual sawah untuk mengobati sakitnya dari pada menyodorkan kartu sehat yang ditolak rumah sakit."

"Orang kampung tidak ingin sakit dua kali: sakit fisik dan sakit hati ketika menyodorkan kartu sehat," sambung Komat.

"Kartu sehat tidak lebih dari Kartu Janji, yang di dalamnya memuat sederet janji kepada orang miskin agar menjaga sehatnya," Kamit lebih cerdas menanggapi. Sayangnya, Kamit tidak menjelaskan siapa yang berjanji. Dan saya berharap, kata Shahibul Hikayah, Anda tidak perlu menafsir kalimat Kamit yang ambigu.

Berbeda dengan 'Kartu Keterangan' jumlah titipan uang logam orang-orang Cina dulu. Pada awalnya, orang–orang Cina merasa ribet membawa uang logam sampai puluhan 'pikul' banyaknya. Bayangkan, uang logam yang terbuat dari besi, dalam seribu keping seberat 3,5 kg, merasa ribet jika dibawa kemana-mana hanya untuk belanja sayur atau sembako. Bisa dikira-kira, berapa kuintal uang logam jika seorang Cina dulu harus memborong kereta beserta kudanya. Apalagi, misalnya, untuk membiayai proyek e-KTP sampai 5 trilyun; berapa ratus ton uang logam yang harus dibagi oleh anggota parlemen terhormat itu. Lebih ribet lagi, siapa yang akan mengangkut ratusan ton uang logam ke meja dewan, dan bagaimana jenengan semua terheran-heran melihat pemandangan menakjubkan puluhan anggota dewan membawa pulang berton-ton uang logam hasil baginya, sampai tak sempat memperbaiki letak dasinya .

Maka, penguasa Cina di abad-10 hanya perlu menuliskan jumlah kepingan uang logam dalam sebuah kartu, yang kelak dikenal sebagai uang kertas. Jadi, kartu keterangan yang nota bene uang itu adalah penampakan uang logam.

"Saya yakin, 'kartu keterangan' itu akan diperebutkan banyak orang," kata Pak Sakerah, "termasuk si miskin yang menolak kartu pintar dan kartu sehat itu; mereka akan ikut berebut mendapatkan kartu keterangan tadi."

Kartu yang agak memiliki 'taring' adalah kartu yang dipegang wasit sepak bola, atau olahraga sejenisnya. Ada dua macam kartu berwarna: kuning dan merah. Kuning melambangkan peringatan, dan kartu merah sebagai sanksi. Jika disemprit kartu merah, seorang pemain tidak bisa melanjutkan laganya lagi. Ia harus keluar dari lapangan, dan tidak ikut pertandingan semusim dalam laga itu.

Jadi, kartu, apapun jenisnya, ada pemilik dan penerimanya. Dalam sebuah laga, wasit sebagai pemberi dus pemilik, dan pemain sebagai penerima. Pemain sebagai objek yang disemprit kartu. Tidak pernah ada cerita wasit dikartu kuning, apalagi kartu merah, oleh pemain. Meski kadang kartu yang disemprit oleh wasit tidak adil, atau kurang bisa diterima oleh pemain, apalagi penonton—tapi kartu yang keluar dari saku wasit adalah pengesahan--legal-formal dalam sebuah laga.

Perlu diingat, wasit dalam sebuah laga berkedudukan sebagai penonton independen yang terjun langsung di lapangan. Ia memiliki dua kartu: kuning dan merah.

Dan, ketika semprit yang ditiup Ketua BEM UI disertai kartu kuning untuk Pak Jokowidodo, jelas viral dan melahirkan banyak tafsir. Maka, perlu dipertanyakan ketika kartu keluar dari saku Ketua BEM UI: siapakah pemain dan siapa pula wasitnya? Apakah Ketua BEM UI sebagai wasit, dan Jokowidodo sebagai pemainnya?

"Pikiran saya semakin kacau," keluh Pak Sakerah lirih. "Ada banyak nilai moral keindonesiaan yang hilang di negeri ini. Kemarin lalu, Pak Budi yang guru honorer itu disemprit kartu truf oleh siswanya, dan ia menjadi korban kartu. Nilai moral penghormatan siswa kepada gurunya, belakangan ini perlu dipertanyakan: apakah masih ada? Kali ini, Pak Jokowi juga mendapat kartu."

Lebih jauh Pak Sakerah memberi saran: Silakan pertentangkan kartu yang keluar dari saku wasit, tapi di luar sana, dengan pertentangan yang bermartabat dengan fakta yang akurat dan logis. Jangan membubarkan sebuah laga karena kartu yang tidak sependapat. Kritiklah habis-habisan Pak Budi yang guru honorer itu karena sudah mengecat pipi siswa, tapi lakukan dengan karakter keindonesiaan, bukan malah di-truf oleh siswanya yang menyebabkan riwayatnya berakhir. Termasuk kartu kuning untuk Pak Jokowdiodo: silakan kritik Pak Presiden kita ini, tapi yang bermartabat.  Jika kartu kuning Pak Jokowi dianggap masih bermartabat, maka tidak penting kita membicarakan tafsir lebih lanjut tentang kartu. Hanya saja, agar kelak tidak kembali keluar kartu kuning, kita harus hati-hati dalam ber-'apa' saja.

"Mestinya," Komat menambah, "presiden ketemu presiden, yang dibicarakan kemaslahatan umat. Ini lain, Presiden RI ketemu Presiden BEM, kok malah keluar kartu. Aneh, atau hebat ya?" tanyanya pelan.

 Itulah kartu, yang bisa kuwalat pada penerimanya karena ia tersanksi secara legal-formal, dan menjadi bumerang bagi pemberi jika tidak bijak mengeluarkannya. Kartu, selembar kertas atau yang disetarakan kertas, yang tidak memiliki arti apa-apa jika kertas itu sebagai pembungkus kacang goreng.

Panorama Pagi –   11 Februari 2018


Catatan Em Saidi Dahlan: 'Adinda'

ADINDA

engkau lahir tanpa rupa
lalu mati bukan karena kolera
namamu tiba-tiba tiada
dilindas zaman
- mengenang tiga dasawarsa Adinda -

1980-an: Adinda lahir dari celah pusar seorang lelaki bernama Herry Santoso. Dia berhasil mengumpulkan sanak-sahabat, dari berbagai issu dan kepentingan, dan mereka bersama merawat atau sebagian malah memperkosa 'Adinda'—anak yang tidak diharap lahirnya oleh Orde, meski dinanti oleh zaman. Herry pula yang memberi nama, yang jika dipanjangkan menjadi "Ajang Dedikasi INtelektual muDA"—sebuah ajang yang tak mendatangkan karier, atau malah menentang keadaan. Dan, nama itu tanpa melewati istikharah, atau bau dupa-kemenyan, dan tanpa aqiqah, sebab memang tidak jelas jenis kelaminnya sebagaimana ayam yang hanya diwujudkan pada telur, atau malah nama itu hanya sepintas lalu—tapi dikukuhkan.
Ia lahir dan menjelma sebagai sebuah sanggar sastra, tempat berkumpul tua-belia sepulang kerja, atau tempat mangkal para penganggur desa. Mereka membaca, dan Adinda pada akhirnya bisa berlangganan 19 macam koran harian dan mingguan, ditambah beberapa majalah bulanan-dwibulanan, setiap hari. Meski koran dan majalah itu terlambat sepekan diterima Adinda, karena dikirim lewat 'Pos dan Giro' dari Surabaya, Bandung, Yogjakarta, Semarang, dan Jakarta; tapi media itu terasa baru, selain baru dibaca, dan setidaknya kertasnya masih harum bau-cetakan atau tinta yang kadang lecet di kursi-meja.
Mereka 'melahap', meski tidak habis, sebab membaca adalah penyakit kita, penyakit bangsa. Lalu, mereka berdiskusi meski tak terarah.
Adinda menjadi hidup dengan diskusi. Dan, suara diskusi itu dipelankan ketika sampai pada topik "Orde yang Tiran"—dan Herry Santoso biasanya tolah-toleh, barangkali ada orang-orang Golkar yang siap menciduk, tapi setelah dirasa aman ia piawai mengemukakan nalar politik, atau tesis kebencian, atau pengaguman kepada selain Tuhan, misalnya semisal Bung Karno, Hatta, Syahrir atau Tan Malaka, dan ia puas setelah mengemukakan pendapatnya, meski hanya kepada anak-didiknya yang baru lulus SPG, atau anak belia yang masih SMA, atau tetangga kanan-kiri yang tak tahu apa-apa tentang politik, kecuali hanya pada Pemilu mereka pasti PPP.
Herry hebat, tapi 'penakut'—takut menentang Orde. Ia seorang Marhaenis, atau Soekarnois, yang Pancasila sejati, tapi 'terpaksa' mendukung Golkar. Ia tak suka PDI, dulu, tapi toleran pada PPP. Katanya, PPP kumpulan orang-orang sederhana, yang ikhlas, jujur dan tidak sombong. Itu dulu, ketika kontestan Pemilu 3 'warna': hijau, kuning dan merah.
Herry hebat dalam berkata-kata, terutama dalam tulisan. Penghuni Adinda digiring belajar 'membuka' wawasan, dan melihat dunia luar yang kumuh, berantakan, dan narsis, yang tidak seperti di desa, Pasongsongan misalnya, sebuah desa kecil sekira 40 km dari kota, yang setiap shubuh bising oleh suara loadspeker, dan pada Kamis malam sehabis shalat Maghrib ramai dengan tahlil dan yasinan, dan sehabis Isya alunan 'Marhabanan'—puji-pujian untuk Nabi yang diviralkan Salahuddin al-Ayyubi, Panglima Perang di masa Daulah Fathimiyah.
Menulis, begitu kira-kira yang disampaikan al-Ghazali, memperpanjang usia. Dan, alim bagi seseorang tidak menjadi jaminan 'panjang' usia jika tidak memiliki buah karya berupa tulisan, semisal buku atau sekadar kliping koran. Di zaman al-Ghazali, tidak sedikit ulama hebat yang allamah, namun namanya tenggelam tidak sampai seabad dari masa meninggalnya. Tapi al-Ghazali, meski sudah lebih satu milinea sejarahnya tetap terkenang, dikenang, dan bahkan ditakwil jalan pikirnya. Itu semua karena ia 'menulis' yang usia cetaknya berkepanjangan, meski sanak-familinya tidak pernah mendapatkan royalty dari karyanya. Dan, menurut Pramoedya Ananta Toer: "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Herry, sang Pendiri Adinda, bersemangat—sebagaimana al-Ghazali dan Pramoedya Ananta Toer yang rajin menulis--mengajak orang-orang sanggar menulis. Tapi menulis tidak segampang menggoreng pisang, atau menanak nasi yang tinggal merendam-rebus beras di perapian, lalu dibiarkan. Menulis, ternyata sesulit merayu Camat atau Carik Desa untuk tidak mencoblos Golkar. Golkar bagi mereka bukan pilihan, tapi 'kewajiban' sebab PNS atau yang berbau PNS diharamkan menolak Golkar. Dan menulis bagi mereka adalah pemaksaan, pemerkosaan, atau penyiksaan pikiran yang tiada tara sebagaimana pelaku murtad yang diputus 800 kali cambuk. Itulah penyakit kita, penyakit bangsa ini, termasuk penyakit guru yang hanya bisa bicara di depan kelas dan meminta siswa menulis sesuka hati, sedangkan pikiran sang guru malah terpenjara.
Maka, tidak heran jika orang-orang sanggar mulai 'berguguran' ketika menulis menjadi 'kewajiban' atau gengsi sesama dalam diskusi. Hanya segelintir orang yang bertahan, mau menulis untuk mengusir identitas pengangguran. Padahal, untuk bisa menulis 'hanya' dibutuhkan berkumpul dengan para penulis, sebagaimana kata Jalaludin ar-Rumi, "Siapa yang naik ke puncak, akan bertemu dengan orang-orang puncak; dan siapa yang turun ke lembah, akan bertemu dengan orang-orang lembah."—dan ini menjadi 'wirid' yang tidak dipraktekkan orang-orang sanggar.
Adinda subur, nama penulisnya banyak. Ada Ayu Dyah Gumelar, Erinda Ratih, Nuraini, Eny Dahlia, Eny Purnamasari, Endy Dahlan, Yant Kay, dan sederet nama menarik yang tak memiliki jasad. Namanya berderet di koran-koran dan majalah Ibukota dan Daerah hampir setiap hari. Menulis menjadi pekerjaan harian yang mendatangkan uang. Tiap sepekan segebuk wesel kiriman datang, dan mereka bisa makan. Sebuah desa kecil, Pasongsongan—dan Abdul Hadi WM, Taufik Ismail, Hamid Jabbar, D. Zawawi Imron, Amang Rahman, dan sederet penyair besar terkagum-kagum dibuatnya. Padahal mereka hanya 4 orang jasad. Di tengah perjalanan sejarahnya, Adinda akhirnya dihuni dua jasad: Herry Santoso dan Em Saidi Dahlan. Tapi dengan 'kesaktiannya', dua jasad itu mampu menjelma 'banyak-nama', yang keduanya kadang lupa nama apa saja yang dipakai untuk mengisi kolom dan budaya. 
Maka tidak heran, jika Abdul Hadi WM pada 1990-an menggaungkan ambisinya membangun Pondok Pesantren Budaya An-Naba' di Pasongsongan—sebuah pesantren budaya satu-satunya di dunia setelah Algarh di India. Pondok Pesantren Budaya itu sudah lama dipersiapkan di Jakarta. Seminar dan sarasehan, berbagai diskusi dan pembicaraan tentang pesantren dan budaya, berkali-kali dilaksanakan di TIM atau tempat lain yang dianggap 'terhormat'.
Ada nama besar yang diseret mewarnai An-Naba' kala itu: penyair Taufik Ismail, A. Fudholi Zaini, Mustofa Bisri (Gus Mus), dan Zawawi Imron; musisi Samsudin Bimbo dan Neno Warisman; pelukis Amang Rachman, Kiai Jamaludin Kaffi Al-Amin Prenduan, dan seterusnya. Dan, Adinda ikut berkibar, sebab orang luar banyak berkunjung, bukan sekadar ingin tahu tanah hutan rencana pesantren, tapi juga Adinda yang hanya dua jasad tadi.
Kita sadari kala itu, mungkin di 'kids zaman now' media membuat orang menjadi besar dan terkenal, dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya menjadi figure, atau malah sebaliknya, media pula yang membuat orang menjadi terkapar dan tersungkur di balik jeruji. Adinda ada di antara derik-derik suara media: membesarkan atau ikut meramaikan. Koran pagi, sore, dan majalah bulanan menjadi santapan, meski usia terbitnya sudah sepekan dan 'basi'. Adinda berderik, mengikuti zaman, menguak wawasan, dan ikut menjadi besar meski kemudian An-Naba' tidak jadi-jadi.
Di luar 'kandang', Adinda bergabung dengan komunitas HP3N (Himpunan Penulis, Pengarang dan Penyair Nusantara) yang bermarkas di Mataram, dan HPCP (Himpunan Pencipta Cerpen dan Puisi)—atau malah komunitas lain yang tengah merapat pada Adinda, sebab namanya telah menghias berbagai kolom, dan bahkan berita di media massa. Tapi Adinda tidak aktif dalam berkomunitas—Adinda lebih eksis di dunia tulis-menulis dengan memublis karyanya di berbagai koran besar di negeri ini. Lagi pula, Adinda tidak memiliki 'panggung' semacam teater, atau sekadar musikalisasi puisi. Ia hanya 'arena' kumpul-kumpul yang tak layak disebut sanggar.
Awal 1990-an, orang-orang Adinda ikut 'mendirikan' dan 'membesarkan' KPBPD (Kelompok Penulis Buku-buku Pendidikan Dasar) Jawa Timur di Pasuruan; kelompok yang memosisikan sebagai penulis buku pendidikan dasar. Selanjutnya kelompok ini bernama KPBP karena anggotanya yang sudah 'Nusantara' dan perannya bukan hanya SD, tapi satuan pendidikan lainnya: SMP, SMA/SMK dan PT. Belakangan nama KPBP berganti menjadi APPI (Asosiasi Penulis Buku Pendidikan Indonesia)—kawasannya semakin jauh: Indonesia, dan semua jenis satuan pendidikan, juga beragam jenis tulisan.
"Kelompok kita tidak seperti Adinda," begitu Sapari, penulis yang malang melintang dalam dunia tulis-menulis berujar di awal pendiriannya. "Karya Adinda sudah dipublis di mana-mana, berbagai koran dan media di negeri ini. Tapi kelompok ini masih belajar menulis. Percayalah, kelompok kita akan besar karena ada orang-orang Adinda di dalamnya," lanjut Sapari, salah seorang penggagas kelompok ini.
Secara fisik Adinda hidup di desa, tapi sebenarnya tak pernah bercengkerama sastra dengan orang-orang kampung. Mereka hanya diajak berdiskusi tentang apa saja, terutama soal pendidikan dan politik di negeri yang 'dianggap' tiran ini. Sebab dunia tulis-menulis bagi orang kampung dianggap reportase, dan Adinda disetarakan dengan rumah jurnalis. Di sinilah bermukim, anggapan mereka, pewarta yang bisa mewartakan apa saja, dan pada media apa saja.
Sementara, tulisan kolom opini, budaya dan fiksi seringkali tidak memuaskan kedua insan penghuni itu. Kritik terhadap 'tiran' dalam bentuk opini, atau cerpen, apalagi puisi yang disiarkan media Ibukota dan Daerah masih belum mampu menusuk hati 'tiran'—apalagi berupa karya 'kiasan'. Maka, kata Herry, perlu tulisan yang terang-terangan mengritisi keadaan. Jadilah Herry Santoso merangkap wartawan di sebuah media ibukota. Beritanya yang tidak imbang mengalir dari berbagai daerah. Tapi keadaannya malah narsis, Herry semakin memperpanjang deret nama musuh-musuhnya. Bahkan suatu ketika ia diinterogasi oleh sahabat dan koleganya karena berani memublis kecurangan pengelolaan Kejar Paket dan Pemberantasan Buta Huruf. Hampir saja, jika Herry tidak mengalah, ia lumer dan terkapar dengan kepalan tinju sahabat dan koleganya.
Adinda damai di desa terpencil. Tapi orang-orang kampung tidak bisa membedakan wartawan dengan hartawan. Menurut mereka, karena 'cuap-cuap'-nya, wartawan yang dalam hal ini penulis, begitu mudahnya mengumpulkan harta. Maka, tidak heran jika Adinda sering terlibat dan dilibatkan dalam urusan sosial dan kemasyarakatan, karena ia wartawan sekaligus hartawan. Dan, sebagian honor tulisan yang belum diterima pun sudah 'terdaftar' sebagai bagian dari kegiatan kemasyarakatan.
Lebih dari 30-an tahun lalu: kini dunia itu telah hilang, atau malah tenggelam di bawah narsis kecanggihan teknologi: guru bisa menulis hanya di telepon genggam, facebook, atau WartsAhapp, lalu diviralkan tanpa tujuan yang jelas.
Adinda hanya sebuah cerita, yang meski dibangun di desa tapi telah bertamu sederet penyair besar, perupa ternama, atau sekadar penyiar radio FM. Dan telah terlibat dalam diskusi dengan berbagai kalangan: dosen, guru atau kiai kampung yang tak pernah mengenal dunia koran. Dan, Sanggar juga sering menjadi tempat 'pelarian' buron-intelektual sebagaimana Syaiful Hadjar yang diburu Orde, atau si penyair pelo Wiji Thukul. Mereka datang, bakar ikan, lalu bercerita tentang puisi-puisinya yang berapi-api, meski tak bisa matang untuk menanak nasi.
Adinda itu hanya masa lalu. Dan sekarang, sanggar tak perlu lagi, sebab komunikasi jauh lebih canggih dari pada sekadar diskusi yang membahas karya sastra yang tak bernas lagi.
Adinda, sekira 30 tahun lalu, dan kini sudah tiada dilindas zaman. **
Panorama Pagi –    07 Februari 2018

Catatan Em Saidi Dahlan : 'Guru'

GURU

Saya tidak kaget ketika gaji guru disunat, TPP tak kunjung tiba, tak ada kenaikan gaji, administrasi segebuk, pekerjaan membimbing siswa menjadi utama, dan kerap di-'teror' dari orang tua siswa. Atau pengangkatan guru PNS yang terhadang oleh moratorium, dan ujug-ujugnya sekolah negeri dipadati GTT—yang jika GTT itu melakukan aksi mogok masal, pendidikan di Indonesia menjadi lumpuh. Itu pasti. Tapi saya tidak kaget, itulah potret guru kita: Indonesia--yang tak pernah 'ramah' dengan profesi yang amat mulia.
Tapi saya sangat kaget, dan tak terasa air mata menitik, ketika mendengar Ahmad Budi Cahyono, guru seni rupa yang masih GTT di SMAN I Torjun, Sampang, Madura meninggal dunia di tangan bokem siswanya pada Kamis (01/2) kemarin. Naif, dunia pendidikan kita tercoreng kembali, dan menambah panjang deret perlakuan kasar bagi pelaku profesi mulia ini. Dan ini menambah kuat larik "guru tanpa tanda jasa, dan binasa di tangan siswanya" yang dilantunkan seorang pengamen di atas bis saat mampir di terminal Sampang.
Pak Sakerah mengelus dada:
Sebuah jurang menganga, antara seorang 'pendidik' dengan 'yang dididik'; yang 'pendidik' dianggap babu yang bisa diperintah sesuka hati oleh 'yang dididik' yang pada saatnya menjelma menjadi juragan, sementara 'pendidik' menjadi budaknya. Ironis, tapi guru, apalagi hanya GTT, tidak bisa berbuat apa-apa untuk sekedar melindungi nasibnya, setidaknya melindungi keselamatannya ketika berdiri di depan siswa dan menjadi seorang 'mpu'. Dan, Pak Budi sebagai Mpu Gandring atas perlakuan Ken Arok, ketika keris siap diselipkan di pinggangnya. Ia dihunjam keris buatannya malah ketika mengasah sebelum akhirnya keris itu diselungkupkan ke warangkanya—itulah Pak Budi, si Mpu Gandring. 
Viral berita tentang penganiayaan dalam dunia pendidikan kita memang tidak imbang. Ketika seorang guru yang dianiaya siswa, viral beritanya hanya sampai di tangan-tangan guru, atau sebatas koleganya. Tapi, ketika siswa yang teraniaya oleh gurunya, viral beritanya sampai dibicarakan di gedung parlemen. Maka, semakin lengkap penderitaan guru: dibatasi viral, dipagari daring, sederet UU yang membatasi gerak guru, dan bahkan urusan HAM segala yang semakin menggelontorkan kewajiban guru sebagai pendidik.
Pak Sakerah hanya bisa mengeluh:
Ada yang harus diubah dalam sistem pendidikan kita. Waktu yang sesak oleh 'pemaksaan' ilmu kepada siswa, adalah peluang yang membuat jarang anak berkumpul, berkomunikasi, bahkan sekadar bertemu dengan keluarganya. Anak menjadi liar, dan jauh di luar prakiraan hidup harmonis yang 'learning to live togeather'. Dan anak hanya dipaksa menjadi 'learning to know' dan 'learning to be'—tahu dan melakukan sesuatu, yang sementara revolusi mental sebagaimana dijanjikan Pak Jokowidodo belum juga dirancang. Unesco menjadi sia-sia merekomendasi 4 pilar pendidikan: learning to be', 'learning to do', 'learning to know', dan 'learning to live togeather'—ketika sistem pendidikan kita malah meninggalkan kearifan lokal.
Belajar maksimal dengan menghabiskan sehari-waktu di sekolah, bukan jaminan anak menjadi cerdas, pandai dan bermartabat. Di desa, malah program belajar sepanjang hari di sekolah menyebabkan anak digiring meninggalkan nilai-nilai lokal yang jauh lebih arif. Ada Madrasah Diniyah, atau pesantren pada siang dan sore hari yang ditinggal anak. Sebab mereka sibuk dengan urusan sekolah, dan bahkan pulang dari sekolah sampai sore hari. Dalam bahasa yang lebih ekstrem, program belajar sepanjang hari di sekolah, semakin menjauhkan anak dengan agamanya.
Pak Sakerah hanya tercenung mematung:
Konten kurikulum, dan pemaksaan menyerap semua kehendak Kurikulum 2013, menyebabkan siswa sibuk memenuhi tugas pelajaran, dan guru sibuk memenuhi administrasi pembelajaran yang menjadi tuntutan. Malah, ketika rencana KPK akan 'turun' langsung kepada guru untuk melihat administrasi, yang menyebabkan seorang guru layak-tidaknya menerima TPP, membuat guru semakin tertantang untuk segera menyelesaikan administrasi pembelajarannya. Guru tidak lagi memiliki waktu yang cukup untuk merancang inovasi pembelajaran, sebab administrasi jauh lebih penting dan aman untuk nasibnya, kelak.
Saling sibuk: siswa sibuk dengan konten materi pembelajaran, dan guru sibuk dengan segebuk administrasi, membuat komunikasi keduanya 'stagnan', dan kering. Dan ini menyebabkan hubungan keduanya seperti sapi dengan gembala. Gembala tidak percaya kepada hewan piarannya, oleh karenanya perlu diikat agar tak lepas, dan hewan piaraan itu juga tidak percaya akan gembala, oleh karenanya ia selalu mencari cara agar bisa lepas dari tali pengekangnya. Itulah potret pendidikan kita: sapi – gembala.
Pak Sakerah hanya bisa geleng-geleng kepala:
Semestinya kita mau belajar pada negeri tetangga, semisal Malaysia. Di negeri tempat TKW bekerja ini, anak tidak dituntut memahami segebuk ilmu. Materi pelajaran di negeri jiran itu, tidak sepadat di Indonesia. Tapi yang utama adalah perilaku, dan ilmu adalah bagian yang bisa dipelajari sambil 'berjalan', tidak harus di kelas atau di ruang persegi mirip penjara.
Dalam pesantren, kajian ilmu menjadi nomer sekian dari sederet 'pemaksaan' santri menjadi alim. Tapi yang utama adalah perilaku, yang oleh Pak Jokowidodo dipahami sebagai mental, atau moral yang dulu masuk menjadi bagian dari pelajaran, atau akhlak sebagai tuntutan Tuhan kepada Muhamamd untuk memperbaikinya, yang diterapkan kepada santri. Sementara ilmu didapat dari kajian-kajian sesudahnya.
Di pesantren, anak sejak awal belajar kitab "at-Ta'lim al-Muta'allim" dan "as-Sullam at-Taufiq", yang membicarakan adab dan tatakrama dalam belajar di dunia pendidikan, dan cara bergaul di masyarakat, dan dengan siapa pun. Sementara dalam dunia pendidikan umum di negeri ini, pendidikan moral dihapus diganti dengan memadatkan materi pelajaran lain, dan butir-butir Pancasila segera dimusnahkan sebab dianggap produk Orde Baru. Padahal anak-anak kita malah menjadi 'liar', dan tak bermartabat.
Pak Sakerah hanya bisa pasrah:
Ketika mental, moral, akhlak dan perilaku tidak mencerminkan Indonesia, maka Pak Budi pun menjadi korban. Ketika Pak Budi tenang di 'sana', sebenarnya pendidikan kita semakin merana. Sinisme potret pendidikan kita. Dan kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, tapi sistem pendidikan kita harus diperbaiki. Hanya itu kuncinya.
 Dan Pak Sakerah tidak bisa berbuat apa-apa, sebab ia bukan Menteri Pendidikan, apalagi pengganti Pak Jokowidodo.
Panorama Pagi   03 Februari 2018

Catatan Em Saidi Dahlan : 'Gerhana'

Gerhana

 

Di udik, nun jauh di sana, yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian, jauh dari kepulan asap kendaraan, dan bunyi knalpot yang memekakkan telinga: bunyi kentong bertalu-talu, atau ember tempat cucian, atau peralatan dapur  tanpa irama memenuhi desa yang sepi dari hingar-bingar, ketika bulan hilang ditelan langit. Bumi yang menghadang cahaya matahari jatuh ke bulan, atau yang kita sepakati bernama 'Gerhana Bulan' adalah hal lumrah, perputaran jagad raya, yang di udik disambut, dan dimeriahkan dengan tetabuan.

Gerhana adalah khasanah alam, yang tidak setiap saat datang, dan menjadi pemandangan menarik ketika bulan-matahari terlelap bukan waktunya. Saat terlelap, penduduk bumi di udik sana terbangun. Manusia, hewan piaraan dan tetumbuhan digelitik agar mengganti peran. Lalu bersujud kepada Sang Khalik, sebab bulan-matahari tengah lalai menjalankan perannya sebagai makhluk. Itulah tujuan tetabuan.

Mereka tidak tahu, kapan gerhana datang.

Orang kota berbeda; viral dirancang; nasihat ditulis; ayat-ayat dipilah sebab gerhana sudah terjadwal pada pajangan almanak di tembok-tembok kusam. Pada waktunya, WhatsApp dikirim dan memenuhi alat komunikasi dan tayangan televisi. 'Rencana' gerhana viral, dan malah jauh lebih meriah dari suasana udik nun jauh di sana, seakan dunia 'gempar' oleh mistis karena peristiwa alam yang sebenarnya sebagai fenomena alam.

Sementara yang lain, ketika gerhana terjadi, orang kota sibuk mengabadikan peristiwa yang tidak langka itu. Lalu diviralkan, dan dibincangkan di media, dan seringkali mengalahkan calon wali kota yang belum diusung partai. Gempar di media, ramai di gambar. Mereka riang di tengah sesaknya tuntutan hidup yang sepi di hati yang damai.

Orang udik berbeda dalam mengapresiasi gerhana.

Bangsa Yunani kuno percaya bahwa gerhana bulan total adalah bentuk kemarahan Tuhan, dan bencana akan menyusul. Suku Hupa di California percaya bahwa gerhana itu bukan peristiwa biasa, tapi karena bulan terluka, yang oleh 12 isterinya dilindungi sehingga terhadanglah cahaya matahari. Orang Cina berbeda, naga telah menelan bulan sehingga hilang dari peredaran. Seperti orang Jawa kuno juga yang percaya bahwa bulan, atau matahari jika gerhana bulan atau matahari tertelan atau ditelan naga.

Di udik, non jauh di sana, dalam "Bulan Sakit Dinihari" (Galaxi Puspa Mega, 2006) Saidi menulis: gerhana bulan disetarakan sebagai 'bulan sakit'—yang ketika waktunya dini hari, maka 'bulan sakit dinihari'—yang memiliki sederet kisah menarik, dan sebagai sebab terbukanya peluang menyingkap tabir alam yang fenomenal. Ketika tetabuan dimulai, ternak piaraan dibangunkan, dan dalam lengah ternak itu menghilang lari menyusuri hutan. Sesajen untuk penunggu sungai, karena ditengarai sebab penyebab 'bulan sakit', belum diapungkan untuk arwah. Mereka lebih memedulikan ternak piaraan daripada sekadar mengapungkan sesajen di atas sungai. Sesajen untuk makan penunggu, dan ternak jauh lebih penting karena untuk mengisi perut warga. Dalam nonteks yang konotatif "Bulan Sakit Dinihari" gerhana dipahami sebagai fenomena alam yang belum terungkap sebagai fakta alam.

Orang udik, non jauh di sana dalam "Bulan Sakit Dinihari", menyingkap tabir. Hewan menghindari gelap, dan menuju terang. Ketika bulan mulai menyelinap di balik langit, hewan berlarian tak karuan, dan terhenti di saat gelap itu pekat. Ketika bulan mulai lepas dari gerhana, dan mengintip dari balik langit, hewan piaraan itu berlari kembali secepatnya menuju terang. Dari sana terungkap, hewan piaraan seperti sapi dan kambing tidak suka gelap.

Fakta alam, dan kiai dalam "Bulan Sakit Dinihari" yang memahami gerhana sebagai petunjuk kebesaran Tuhan, tidak sebatas paham bahwa itu fonomena satelit bumi. Ada fenomena lain yang bersengkulat, dan bermuara kepada peristiwa alam itu. Ada dampak, ketika orang awam memahami fenomena alam itu sebagai 'kemarahan' alam gaib, dan orang udik menerima dampaknya: ternak piaran yang kabur menghindari gelap, dan selanjutnya menuju terang ketika gerhana berakhir sudah.

Nabi mengisyaratkan, gerhana tidak karena ada kematian, mistis atau faktor alam lain di bumi, sebagaimana kematian Ibrahim, putera Nabi. Tapi Tuhan telah menunjukkan kebesaran-Nya, dan fenomena alam itu Tuhan jua yang mengatur.

Orang kota, yang jauh dari udik, paham akan hal itu. Lalu, shalat sunah gerhana khusuf atau kusuf berjemaah dirancang dengan imam dan khatib terpilih. Diviralkan, dengan mengatasnamakan kebesaran nama sang khatib: jemaah pun berduyun. Ingin mendengarkan khotbah, atau memang ingin tahu wajah khatib secara langsung, sebab selama ini yang didengar hanya nama, atau wajah yang sering tampil di televisi.

Dan, kehadiran jemaah sering terbelokkan dari Sang Pemilik Gerhana kepada wajah khatib yang sering muncul di televisi, atau ceramah yang viral di medsos. Sebuah arogansi 'moral' yang seringkali kita lupa—ternyata orang udik, nun jauh di sana, jauh lebih bermartabat, meski hanya kentong bertalu-talu, ember tempat cucian, dan alat dapur yang tak berirama menyesak gulita, ketika gerhana datang. Sebuah peristiwa yang bersengkulat.

Orang udik di sana, dan orang kota di sini: menikmati kebesaran Tuhan.

Panorama Pagi –   31 Januari 2018


Catatan Em Saidi Dahlan : 'Ludruk'

Ludruk

 

Sekira 1980-an: Hiburan rakyat yang paling menarik di Sumenep, ujung timur Madura, adalah ludruk—selain juga bioskop layar tancap atau misbar. Ludruk di Madura: seni panggung rakyat 'kecil', mengisahkan kerajaan dengan bahasa lokal yang bertatakrama bahasa enggi-bunten. Berhasil sedikit menggeser hiburan bioskop misbar (gerimis bubar) karena film yang diputarnya hanya berkampanye KB dengan 'dua anak cukup', dan disinyalir konon hanya film-film jadul Rhoma Irama, atau sezaman dengannya. Kelompok seniman Ludruk yang paling disegani dan 'laris' adalah Rukun Karya, yang kerap manggung sampai ke tanah Jawa.

Ludruk, seni pertunjukan-panggung, di dalamnya dikemas berbagai cerita 'sejarah' kerajaan, yang kadang tidak selesai dalam semalam. Bisa dua atau tiga malam, ceritanya baru selesai. Berbeda dengan definisi dari banyak peneliti, ludruk diasumsi sebagai seni panggung rakyat kecil yang mengisahkan 'banyolan' dan hal-hal yang ringan, kehidupan sehari-hari yang mudah ditemui; dan hanya ketoprak yang menurunkan kisah kerajaan. Tapi ludruk di Madura malah sebaliknya, kisahnya tidak lepas dari kehidupan istana di zaman kerajaan, dengan bahasa enggi-bunten yang tak mudah dipahami anak usia SD.

Seakan berkekuatan magis, Ludruk Rukun Karya ketika tampil memiliki daya tarik tersendiri dengan penonton yang berjubel. Tampil di musim kemarau, di tanah lapang luas, dan terjangkau oleh penontonnya yang dari udik sekalipun. Pilihan manggung musim kemarau bukan tanpa alasan, sebab ludruk itu berpanggung keliling-terbuka di tanah lapang, tidak di ruang gedung pertunjukan yang dibatasi tembok dan atap. Dan, ia menjadi pertunjukan drama yang disuka rakyat kecil, dan banyak hal yang menjadi sebab; di antaranya tidak ada hiburan lain selain bisokop misbar, dan televisi hitam-putih di kantor camat yang tayangnya hanya malam hari, dan isi siaran seputar berita dan kunjungan para menteri.  

Semua pemain ludruk itu laki-laki, termasuk pemeran wanita kebanyakan atau bahkan permaisuri dan ratu. Maka, pemeran wanita yang laki-laki itu berdandan layaknya seorang wanita beneran: berkebaya atau long dres, bergelung dan berbedak menor—sesuai dengan perannya. Suaranya nyaris menyerupai wanita, dan jika telinga penonton laki-laki tidak teliti mendengarnya, suara itu  mengundang birahi. Di zaman itu, nyaris tidak ditemui wanita bersuara keras sampai didengar oleh ratusan, atau bahkan ribuan penonton di tanah lapang yang luas. Dan, jarang sekali wanita tampil di atas panggung menghadapi ratusan orang—kecuali dalam drama di atas panggung ludruk itu.

Perlu diingat, ketika Rukun Karya itu ditanggap di mana-mana, dan pemainnya menjadikan peran sebagai profesi 'tetap', maka laki-laki tulen yang memerankan wanita akan menjadi banci, bencong, waria, atau 'kemayu'—dalam keseharian, bahkan sepanjang hayatnya. Dus, nafsu dan perilakunya pun cenderung berubah: kewanita-wanitaan. Sebaliknya, pemeran raja akan menjadi dambaan banyak wanita. Itu peran yang dipentaskan di atas panggung, yang menjadi nyata di dunia nyata.

Maka, ludruk yang berupa seni panggung-rakyat yang merakyat dari berbagai lapisan, mendapat pertentangan 'kecil' dari kiai-kiai kampung. "Hukum ludruk haram"--begitu yang didengar Pak Sakerah. Meski tidak disosialisasikan di atas podium, tapi ini membuat resah orang-orang udik, atau setidaknya Pak Sakerah dan rekan.

Kiai kampung, sejak dulu sampai sekarang, dan entah sampai kapan, masih menjadi tokoh panutan; sebagai public figure yang tak viral oleh media; dan sebagai 'rujukan' perilaku warga. Perannya melampaui batas carik dan modin di desa, meski tak beradministrasi. Sumbernya jelas: Alquran-Hadits, dan Ijma' Ulama. Maka, sekali ia bicara, membuat orang seribu kali mengangguk—meski kadang mereka tidak paham apa yang ia bicarakan. Itulah dunia paternalistik kita, yang homogen dan menarik. Tapi, kiai (salah satu) aset negara, yang dalam sejarahnya ikut bekerja mennyatukan yang terserak, dan menjadikan: Indonesia merdeka--tidak bisa dibantah!

Tapi 'fatwa' haram pada ludruk, seni drama-panggung yang merakyat, tidak bisa diterima akal sehat. Maka, Pak Sakerah, Komat dan Kamit mencari tahu sebab fatwa haram itu. Sebab, jika fatwa itu terus bergelinding, rakyat tidak ada pilihan lain, kecuali berseteru dengan seni drama-panggung itu. Dan sudah pasti, rakyat tidak mendapatkan hiburan lagi, kecuali televisi hitam-putih di kantor camat pada malam hari. Sejarah ludruk akan berakhir, dan peran tidak akan menjadi pofesi yang bisa mendatangkan gengsi dan harga diri—setidaknya rizki.

"Satu sebab utamanya yang menyebabkan ludruk haram ditonton," Kiai Rahwini, seorang kiai yang tak pernah bersentuhan dengan politik praktis berkata, "laki-laki menjadi perempuan."

"Hanya karena itu, Kiai?" Pak Sakerah heran.

"Iya," kata Kiai Rahwini tegas. "Sebab di situ terpajang dengan jelas 'suatu kebohongan'. Dan, kebohongan adalah pengkhianatan."

Pak Sakerah tidak merasa perlu melanjutkan tanya, apalagi debat—ia sudah paham itu. Bagi tokoh fenomenal Madura ini, jawaban Kiai Rahwini sudah cukup jelas: kebohongan.

Di atas panggung, ludruk memerankan banyak kebohongan: laki-laki menjadi wanita—seringkali dibawa ke alam nyata. Itu kebohongan yang esensi: bohong dalam peran, dan menjadi 'pembohong' di alam pergaulan. Dan, perlu disadari, dalam fiqh as-Syafiiyah, waria atau sejenisnya: tidak boleh menjadi imam (shalat) bagi laki-laki, sebab di tengah pelaksanaan (shalat) bisa saja ia berubah peran sebagai wanita; dan tidak boleh menjadi imam bagi sesamanya, sebab di tengah perjalanan bisa saja berubah menjadi wanita sementara makmumnya malah menjadi laki-laki.  

Di bawah panggung, ludruk harus bisa petak-umpet dengan Orde. Nama Rukun Karya, mungkin, sebuah nama yang dipilih untik menyerasikan 'partai' penguasa yang bernama Golongan Karya (Golkar). Ia harus tampil di mana-mana, memenuhi tanggapan dari berbagai lapisan daerah, bahkan sampai ke tanah Jawa. Dan, pentas harus berizin, sedangkan izin tidak mudah. Jika Rukun Karya 'dianggap' milik Golkar, izin bisa diurus setelah pentas bubar. Meski para pemeran tidak seluruhnya suka dengan Orde ini. Ini juga sebuah kebohongan: perjuangan memberantas nahi-munkar harus terang-terangan, tidak bisa petak-umpet.

Di dalam cerita, ludruk juga menyimpan sederet kebohongan. Ia ingin mengritik tiran, tapi yang ditampilkan sejarah kerajaan. Bahkan sejarah kadang dipelintir sampai ujung cerita tidak memiliki dasar tarikh yang jelas. Dan ini: kebohongan.

Pak Sakerah diam sesaat, membenarkan fatwa haram itu. Kiai-kiai kampung itu bijak nan hati-hati, dan fatwa tidak diumbar demi kemahslahatan umat, pikir Pak Sakerah dalam hati.

"Lalu, bagaimana dengan panggung politik kita ya? Ia juga menampilkan sandiwara-pentas di alam terbuka; haramkah dia?" Komat ingin tahu. "Bagaimana dengan LGBT, yang menampilkan peran di alam yang penuh birahi lain-jenis, di luar pentas; haramkah mereka?"

Pak Sakerah tidak bisa menjawab. *

Panorama Pagi –  29  Januari 2018


 
by : Fen 2013 | email: redaksipanoramapagi@gmail.com | Redaksi
Copyright © 2011. Panorama Pagi - Sukseskan Pemilu 2014
BL Panorama Pagi by Login
To AMOI